Kisruh Lintas Batas Reda, Masuk Toraja Bayar Rapid Test 300 Ribu

Su-sel (inetnews), Pemberlakuan New Normal pemerintah pemprov Sulsel terhadap 12 kabupaten/kota memancing polemik baru, bahkan meruncing menjurus aksi sosial.

Situasi memanas antar perbatasan wilayah kini muncul antara pemda Enrekang dan Pemda Tana Toraja mulai berdampak merugikan masyarakat serta pedagang sayur tertahan di perbatasan kedua daerah bertetangga ini.

Warga Enrekang Hamka menuturkan, kejadian diperbatasan Salubarani , sedari pemberlakuan New Normal dari pemprov Sulsel, daerah Tana Toraja langsung menutup ketat akses kewilayahnya.

Kata Hamka, pelarangan melintas warga Enrekang dikawal ketat petugas Covid-19 Tana Toraja semakin memanas, setelah pedagang Enrekang tak bisa melintas begitu pun warga Sangtempe tak boleh lewat Salubarani.

“sebab syarat memasuki ke Tana Toraja wajib tunjukkan keterangan sehat dan hasil rapid test negatif dari daerah asal, dan kami tak tahu dimana mendapat ketetangan begitu,” aku warga Sangtempe Hamka (2/6).

Petugas Tana Toraja di perbatasan Salubarani (Tana Toraja) dan desa Pana, kecamatan Alla (Enrekang).
Bahkan peristiwa penumpukan puluhan mobil truck dan sayuran tertahan memancing suasana memanas.

Kata Hamka asal Sangtempe ini, sejak dua hari lalu petugas Toraja menyekat wilayahnya sekaitan surat edaran bupati Toraja mewajibkan asal daerah luar dilengkapi surat keterangan sehat dan hasil rapid Negatif virus Corona.

Langkah dalam penerapan ini mulai menimbulkan gelombang protes, sebab paling dirugikan pedagang sayuran terminal agro (Sudu) dan warga Sangtempe (kecamatan Curio) tak bisa lagi melintas ke pasar Sudu mulai muncul emosi.

Camat Alla Sabang katakan, warga Sangtempe (Enrekang) kalau mau ke pasar sudu enak perginya lewat Salubarani tapi kalau pulang harus lewat jalur lain melewati Pelali ke Mandalan, Minanga baru ke Sangtempe.

“Begtu juga orang Rantelimbong ke pasar sudu harus lewat Pamolongan, Pelali, Sumbang,, Curio Sanglepongan Maliba baru Ke Rante limbong jadi 5 desa dilewati berjarak kurang lebih 30 Km sekitar 2 jam perjalanan,”sesal Camat Alla Sabang.

Situasi merubah jalur lintas warga Enrekang inipun juga diakui camat Curio A. Faisal P. Kulle terpaksa melewati jalur Curio beda disaat jalur normal lebih pendek.

Kata A. Faisal P. Kulle, Sehubungan semakin ketatnya pemeriksaan di Posko pintu masuk Tana Toraja, dikeluhkan warga lengkap surat keterangan sehat dan hasil Rapit Testnya.

Jika tak lengkap terpaksa mengambil jalur memutar ke Pamolongan masuk Sangtempe dan Buntu barana/Rante limbong (melewati wilayah Curio).

“jalur normalnya ke desa Buntu Barana ini cukup menyeberang Toraja, tapi sudah tidak bisa lagi, “ucap A. Faisal P.Kulle,MH.

Kondisi memanas di perbatasan hadir wabup Enrekang Asman, SE, Sekda Dr.H. Baba, SE. MM dan Forkopimda bertemu darurat diperbatasan bersama pemda Tana Toraja.

Sekda Enrekang Dr. H. Baba, SE. MM jelaskan,Ada beberapa kesepakatan pemda Enrekang dengan Toraja yang diwakili masing masing wakil bupati kedua daerah.

Kata Sekda Baba, kesepakatannya antara lain, pedagang yang melintas di Toraja tujuan Palopo harus ada surat keterangan jalan dari pemda Enrekang dan menggunakan masker, Pedagang tujuan wilayah Toraja saja harus ada surat keterangan jalan, pakai masker dan surat keterangan rapid tes.

“dan keterangan rapid tes bisa dilakukan di Salubarani (Toraja) oleh pihak swasta biaya 300 ribu rupiah, “jelas Dr.H.Baba, SE.MM.

Wabup Enrekang selaku ketua tim rakor menambahkan, untuk pedagang asal Enrekang yang masuk wikayah Toraja membawa barang hasil bumi dan lainnya tidak diperlukan rapid test karena sifatnya ngedrop barang.

“kalo masuk Toraja dengan maksud ngedrop barang bawaan dan langsung kembali tak perlu rapid test, “jelas Wabup Asman, SE. (sam)

Leave a Reply