Lurah Tompo Balang: Perlu ada Kajian isi Surat Kuasa

Gowa,inetnews.id— pemerintah yang baik adalah mereka yang selalu memperjuangkan nasib masyarakat kecil, kejadian di kelurahan Tompa Balang mengenai pengurusan tanah sepanjang sungai jeneberang terutama di lokasi tower PT yasmin Mitra keluarga atau PT Inti bangun sejahtra yang dibangun di atas lokasi 15 * 15 M2 tanah milik Hatijah.

Dalam pengurusan sporadik tanah tersebut pemerintah kelurahan Tompo Balang Setengah Hati memberikan tanda tangan. Padahal pemerintah Rukun Warga dan kepala lingkungan jeneberang Sudah membuhi tanda tangan.

Kepala lingkungan jeneberang Bahtiar anas Mattu meminta kepada Hatijah melengkapi surat pernyataan dari ahli waris lain berupa pernyataan dan tandatangani mereka menyatakan bahwa lokasi di atas pembangunan Tower adalah tanah milik Hatija.

Setelah di penuhi oleh Hatija kepala lingkugan meminta lagi tanda tangan di surat satu lembar kertas yang menyatakan bahwa lokasi tersebut adalah milik Hatija juga di penuhi oleh ahli waris dari keluarga Hatija.

Proses pengurusan pengakuan tanah milik ditandatangani di foto di rekam dan di video hal itu juga dilakukan oleh ahli waris sehingga total tanda tangan yang dilakukan oleh ahli waris terkait dengan pembuatan Sporadik pada tanah tersebut sebanyak 3 rangkap yang di ulang selama 3 kali.

Dengan alasan untuk menarik tanda tangan dan menarik kuasa terhadap penandatanganan Akta Jual Beli tanah yang ada di sepanjang sungai jeneberang kepada Akbar.

Lucunya adalah tanah tersebut bukan hasil jual beli tetapi merupakan pembagian warisan dari congnge bin tungga, karena ulah Pak Lurah ini membuat pertanyaan yang serius dari kuasa pendamping Hatijah.

Karena itu ketua pendamping Hatijah, Ahmadi Pallaki menganggap Lurah Tompo Balang di duga tidak membaca surat tersebut sehingga tidak memahami isi surat kuasa diberikan kepada Akbar tanggal 26 Desember 2017 .

Dimana isi Surat kuasanya adalah untuk menandatangani Akta Jual Beli pada lokasi tersebut, Sementara lokasi milik Hatija didapatkan bukan hasil pembelian atau penjualan tetapi merupakan hasil pembagian dari ahli waris.

Sementara surat kuasa yang diberikan kepada Muh Amir tarru ditandatangani atau dibuat di bontoramba 3 Januari 2015 adalah surat kuasa untuk seluruh proses terjadinya pemindahan objek berupa tanah almarhum cangnge bin tungga sesuai dengan buku C1.

Tapi cukup aneh, Surat yang dikeluarkan per tanggal 3 Januari 2015 di Bontoramba dimana huruf kapital pada lembaran pertama tidak sama dengan huruf kapital pada lembaran kedua diduga keras surat ini adalah surat palsu.

Sehingga lahirnya surat ini diduga terjadi pelanggaran olehnya itu diharapkan kepada pihak yang berwajib untuk menyelidiki proses keluarnya surat tersebut.

Lurah Tompo Balang Yang dihubungi via wa menjelaskan terkait dengan sporadik yang diduga tidak jelas karena diluar daripada kepemilikan change bin tungnga dengan jumlah 3000 M Masih Milik Amir Tarru.

Karena kesalahan itu dia tidak mau lagi terulang ( kata pak lurah) kedua kali sehingga perlu mempelajari dulu katanya. artinya kesalahannya pada pembuatan Sporadik tertanggal 17 Juni 2019 jadi pelajaran katanya seolah di luar dari 3000 M masih milik tarru.

Sementara salah seorang pendamping Hatija, Wahyuddin meminta kepada bupati untuk terus memantau dan mengevaluasi kinerja aparatnya ditingkat bawah termasuk Lurah dan Camatnya.(*)

Leave a Reply