Hari kedua Peserta Mendapat Materi Kepemimpinan Asertif

ABDIMAS GUNADARMA-NURUL H DEPOK, (inetnews.id)- Hari kedua, kegiatan Capacity Building Ustazah Transional, Dr. Nuriaty Samatan membawakan materi kepemimpinan asertif kepada para ibu-ibu di Pondok Pesantren Nurul Huda, Depok, Jabar.

Dosen Universitas Gunadarma itu menyebutkan melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat yang didanai Ristek Dikti tahun 2020, melakukan kegiatan Workshop Character Building bagi Ustazah Transisional, yang berlangsung pada tanggal 4-5 Juli 2020 di Pondok Pesantren Nurul Huda. Pesantren ini terletak di Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Depok Jawa Barat.

Workshop yang diikuti oleh 35 peserta dari alumni Pondok Pesantren Nurul Huda yang berprofesi sebagai ustazah dan juga pengelola majelis Taklim juga penggiat sosial lainnya, setelah hari pertama diisi dengan materi : Kapasitas Kepemimpinan Perempuan Transisional, Management By Objectives, Management Pengelolaan Organisasi, Character Building, Corporate Culture, Hubungan Sosial dan Kerjasama Internal dan Eksternal, pada hari kedua, diisi dengan beberapa penguatan pada materi yang telah dibahas pada hari pertama, 4 Juli 2020, FGD, praktek membuat startup melalui operasional smartphone, diskusi kelompok, presentasi, dan Post Tes.

Dr. Nuriyati Samatan, sebagai ketua pelaksana Pengabdian Masyarakat, memberikan penekanan pada dua materi, yakni Kapasitas Kepemimpinan Perempuan Transisional dan Management By Objectives. Pelatihan ini didasari melalui kesadaran akan jumlah perempuan yang melebihi jumlah laki-laki. Jika pemberdayaan perempuan dilakukan dengan baik, maka kemajuan Indonesia akan terlaksana dengan gemilang. Perempuan memiliki sisi kekuatan dalam kepemimpinan, yakni kepemimpinan asertif. Kepemimpinan yang memadukan antara kelembutan dan ketegasan pada perempuan, yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Sementara, dalam Management By Objectives, Dr. Nuriyati Samatan sebagai ketua pelaksana kegiatan yang juga sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma itu, memberikan penekanan agar para perempuan “jangan menjadi pembantu di rumahnya sendiri”. Artinya, ibu-ibu bekerja berdasarkan “goal” yang telah direncanakan. Jika tujuannya adalah “rumah sudah harus rapih pada jam 07.30”, maka Ibu-ibu harus bisa memenej seluruh keluarga yang ada di dalam rumah “siapa mengerjakan apa”. Dengan adanya tanggungjawab masing-masing personil yang ada di dalam rumah, maka tujuan untuk menjadikan rumah rapih, bersih dan wangi pada jam 07.30 dapat tercapai. Dan ibu-ibu dapat beraktifitas dalam ruang “public”. Sebagai ustazah, pengajar, pebisnis, dan dengan energy yang masih fresh. Jadi MBO tidak hanya dapat diterapkan dalam perusahaan, namun juga dalam keluarga, paparnya.

Kegiatan ditutup pada jam 14.00 dan diisi dengan harapan-harapan, baik dari peserta, penyelenggara dan dari Pondok Pesantren Nurul Huda Depok. (hm)

Leave a Reply