DEWAN KESENIAN JAWA TIMUR 2020 MENYELENGGARAKAN PENGANUGRAHAN FESTIVAL FILM DOKUMENTER “NEW NORMAL”.

SURABAYA (inetnews.id) – Sebuah perhelatan festival film kontekstual dengan kondisi saat ini baru saja selesai dilaksanakan.

Festival Film Dokumenter “New Normal?” itu merupakan sebuah festival yang mencoba menangkap, mengolah dan mengarsip fenomena sosial tatanan kenormalan baru dalam menghadapi pandemi covid-19 yang menyerang seantero jagat.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, 23 karya masuk. Berasal dari para filmmaker Jawa Timur, dengan tingkat persebaran yang merata yakni Surabaya, Tulungagung, Malang, Sidoarjo, Sumenep, dan lainnya. Ini membuktikan, pertama: tingkat antuasisme yang terus terjaga di kalangan teman-teman filmmakers Jawa Timur. Pendeknya periode batas penerimaan karya, tidak membuat surut langkah mereka untuk mengapresiasi perhelatan ini. Kedua: fenomena “New Normal” yang menjadi benang merah tema perhelatan ini, menjadi sesuatu yang menarik diolah dan dengan kaca mata beragam, menghasilkan keragaman tutur dan karya yang kaya. Dan ini, adalah modal besar bagi perkembangan film di Jawa Timur.

Bertempat di Kantor Dewan Kesenian Jawa Timur, Jl Genteng Kali 85 Surabaya, Dalam sambutannya saat malam penganugerahan hari kamis malam 20 Agustus 2020, Ketua Pelaksana, Irfan Akbar Prawiro mengatakan, “ini adalah program pertama kami departemen film DK Jatim setelah SK Gubernur Khofifah ditandatangani Mei lalu. kami menyampaikan Terima kasih kepada Kawan-kawan Sineas Jawa Timur yang sudah terlibat, dan Juri yang mengapresiasi juga mengkurasi, serta Semua Presidium dan Pengurus DK Jatim yang mensuport kami. Semoga kedepan ekosistem perfilman di Jawa timur semakin membaik dan insya ALLAH ideal, hal tersebut bisa tercapai tentunya dengan bantuan serta kerja sama semua elemen perfilman di Jawa Timur.”

Ketua Persidium, Taufik Hidayat, berpendapat, “ini sesuatu hal yang sangat menarik dan luar biasa, karena Teman-teman Sineas Jawa Timur masih banyak yang susah payah karena pandemi ini, dan Departemen film DK Jatim punya strategi khusus dengan menjembatani melalui festival film dokumenter Jawa Timur 2020 dengan tema besar “New Normal?” yang kemudian direspon dengan baik oleh banyak Kawan-kawan Sineas Jawa Timur dengan bisa menagkap isu ini ke dalam kreativitas yang sangat menarik, menampilkan situasi secara apa adanya, dengan tetap memunculkan budaya lokal yang kuat. Dan ini menjadi inspirasi. Ini akan jadi sejarah tersendiri. Harusnya Pemprov lebih peka melihat isu seperti ini ketimbang rutinitas protap teknis. Tentu saja ini masukan penting untuk Pemprov Jawa Timur.”

Hamsyiral Ihsan dari Asosiasi Dokumenteris Nusantara korda Surabaya, yang merupakan salah satu juri menyatakan, “perlu diperbanyak festival seperti ini secara kuantitas, sehingga kedepannya secara kualitas perkembangannya terlihat dengan jelas. Tentu saja alangkah baiknya ini direspon dan didukung Pemerintah daerah.”
Tonny Trimarsanto, Ketua Asosiasi Dokumenteris Nusantara yang juga Juri dalam festival ini mengapresiasi dengan sangat posistif, dan memberi masukan secara teknis, juga eksplorasi konten, kedekatan dengan Narasumber yang lebih lagi, termasuk dari sisi-sisi yang tidak terduga yang layak diungkap dalam visual. Sementara itu Yuda Kurniawan Pemenang kategori film dokumenter FFI 2018 yang juga menjadi juri, mengatakan Sineas Jawa Timur memiliki potensi yang lumayan baik, maka kedepannya, festival seperti ini diperbanyak lagi dengan memperhatikan nilai-nilai lokalitas yang belum terungkap
Malam tadi telah dihelat penganugerahan untuk enam juara dimana film-film yang masuk telah melalui beberapa proses kurasi dan penjurian. Proses kurasi dinilai oleh 3 juri: Tonny Trimarsanto (Ketua Asosiasi Dokumenteris Nasional, pembuat film documenter), Yuda Kurniawan (Dokumenteris peraih piala FFI 2018), dan Hamsyirak Ihsan (Ketua Asosiasi Dokumenteris Nasional Korda Surabaya Raya). Dari ketiga juri, maka terpilihlah 10 film terbaik dan pemenang juara untuk kategori:

  1. Film Terbaik I diraih oleh Komunitas Kita Tulungagung dengan judul film Cimplung – Sosial, Ekonomi, Budaya
  2. Film Terbaik II diraih oleh komunitas ILLUMI Visual dengan judul film Paradigma
  3. Film Terbaik III diraih oleh komunitas Singiden Project dengan judul Pleidoi Panggung Hiburan
  4. Dokumenteris Terbaik diraih oleh Ryan Herdiansyah dengan judul film Paradigma
  5. Editor Terbaik diraih oleh Ardie C. Firsttiant dengan judul film Cimplung – sosial, ekonomi, budaya
  6. Kameramen Terbaik diraih oleh Ardie C Firsttiant dan Endrita Agung dengan judul film Cimplung – ekonomi, sosial, budaya

Tiap kategori berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai, trophy dan sertifikat. Selain itu 10 film terbaik lainnya juga mendapatkan sertifikat.

Semoga perhelatan Festival Film Dokumenter “New Normal?” ini menjadi perhelatan yang bermanfaat. Bukan saja bagi para pemenang, tapi terhadap ekosistem perfilman Jawa Timur.

Penyelenggara FESTIVAL FILM DOKUMENTER “NEW NORMAL?”
Departemen Film DKJATIM
DEWAN KESENIAN JAWA TIMUR 2020-2025. (tin)

Leave a Reply