Gambaran Kondisi Industri Asuransi Indonesia di Tengah Pandemi

Yokyakarta, (inetnews.id)—Pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis di berbagai lini usaha. Tak terkecuali, industri asuransi di Indonesia.
Pendapatan premi asuransi mengalami penurunan signifikan, meliputi, asuransi jiwa minus 10 persen, asuransi umum 2,3 persen, dan asuransi sosial 10,97 persen.
“Premi merupakan darah bagi industri asuransi, otomatis ketika kontraksi mempengaruhi industri,” ujar Myland, Direktur Keuangan Jasa Raharja, dalam Bussiness Leadership Series#8 bertajuk “Crisis and The Global (Re)insurance Industry | Thinking Ahead, Challenges and Opportunities”, Sabtu (5/9/2020). Webinar yang diselenggarakan oleh MM UGM, Kafegama MM, dan MMSA UGM ini dimoderatori oleh Ningrum Ambarsari, Humas Kafegama MM Balinusa sekaligus dosen Universitas Prof. Dr. Moestopo.
Ia mengungkapkan Covid-19 menghasilkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini membuat interaksi antar manusia terbatas, padahal model bisnis asuransi mengandalkan interaksi orang. Akibatnya, penetrasi ke pelanggan pun mengalami kesulitan.
“Bisa saja pertemuan virtual, tetapi ternyata tidak seefektif pertemuan tatap muka,” ucapnya.
Turunnya premi juga mengakibatkan likuiditas terganggu. Sebagai nyawa sebuah perusahaan, industri asuransi saat ini lebih memilih untuk menjaga likuiditas, termasuk aset-aset di dalamnya ketimbang pencapaian investasi.
Sumber daya manusia di dalam industri ini pun juga berubah. Pandemi membuat model baru dalam bekerja melalui work from home (WFH).
Menurut Myland, hal-hal itu memaksa industri bertansformasi untuk bertahan. Upaya yang dilakukan antara lain membuat omni channel untuk efisiensi distribusi, mendorong going digital di semua kegiatan mulai dari penjualan sampai proses klaim, serta berkolaborasi dengan e-commerce dan e-service untuk meningkatkan penetrasi.
“Covid-19 memberikan tantangan sekaligus kesempatan untuk industri asuransi,” tuturnya.
Ia mencontohkan Jasa Raharja mulai menerapkan transformasi melalui penggunaan big data untuk pengambilan keputusan dan strategi bisnis yang inovatif. Selain itu, pengembangan budaya digital melalui kompetensi penguatan data analytics.
Salah satunya, melalui pengembangan aplikasi JRku Yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang takut datang dan antre ke samsat saat pandemi Covid-19.
Direktur Kepatuhan dan SDM Jiwasraya, Mahelan Prabaantarikso, menyebutkan pemegang polis mengalami penurunan di kuartal I 2020 yang berimbas pada penerimaan premi 2020. Terlebih, porsi asuransi terhadap sektor keuangan masih di bawah 10 persen, padahal jumlah perusahaan mencapai 139.
“Inovasi juga belum optimal karena untuk pemasaran masih fokus pada cabang, padahal asuransi seharusnya pakai Agen,” ujarnya.
Jumlah agen asuransi di Indonesia masih 600.000 yang masih jauh dari jumlah ideal 10 juta.
Menurut Mahelan, ada empat tantangan yang dihadapi industri asuransi di Indonesia. Pertama, rendahnya kepercayaan terhadap asuransi.
Kedua, maraknya kasus asuransi gagal bayar. Ketiga, kualitas SDM yang belum secara maksimal menyampaikan informasi kepada pemegang polis. Keempat, soal kesempatan investasi dalam asuransi yang belum sepenuhnya dipahami.
Sebagai asuransi jiwa, fokus kepada pelanggan menjadi hal utama. Caranya, mengetahui kebutuhan pelanggan, terutama setelah Covid-19 berlalu.
Transformasi digital juga menjadi sebuah keniscayaan melalui penggunaan teknologi berbasis big data.
“Fundamental bisnis mencakup tiga hal penting, value, layanan produk, dan sustainability,” ucapnya.
Deputi Direksi Manajemen Data dan Informasi BPJS Kesehatan, Andi Afdal, bercerita selama pandemi Covid-19 membuat perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses BPJS. Berdasarkan data WHO, sebanyak 53 persen orang sudah tidak rutin lagi datang ke rumah sakit untuk mengakses layanan kesehatan. Hal ini juga terjadi di Indonesia.
Padahal, berdasarkan data 2018, terdapat 640.821 pengunjung per hari yang memanfaatkan layanan BPJS.
“Di masa sekarang kami merancang untuk menawarkan alternatif layanan,” ucapnya.
Misal, berkonsultasi ke dokter tanpa harus tatap muka. Di Sisi lain, pandemi Covid-19 juga membuat masyarakat lebih teredukasi, yakni tidak langsung ke rumah sakit ketika merasa sakit.
“Bisa dengan self healing atau konsultasi dulu dengan dokter,” kata Andi.
BPJS Kesehatan juga berpartisipasi dalam program pembuatan vaksin yang sedang dilakukan pemerintah melalui big data analytics.
Jadi, BPJS menyediakan data peserta yang berusia 60 tahun ke atas dan memiliki komorbid, sehingga mereka bisa menjadi prioritas ketika vaksin sudah ada.

Lingga. Humas Kafegama MM.

Leave a Reply