Satreskrim Probolinggo, Kasus Kelas Teri, 6 bulan Tak Kunjung Kelar

Probolinggo (Inetnews), Masyarakat desa Jabungsisir Kecamatan Paiton, terus menduga duga sekaitan kelambanan polres Probolinggo dalam menangani pengaduan masyarakat.

Pelapor Suprayitno dkk katakan, saya sudah dimintai keterangan di satuan reskrim polres Probolinggo sekaitan persoalan dugaan pemalsuan ijazah paket C terbit tahun 2013 dari lembaga Ponpes Nurul Hasaniyah juga palsu.

Kata dia,pengaduan kami sudah 6 bulan lalu di polisi, itu laporan dilakukan ada ijazah paket C hasil foto copynya milik kades Jabungsisir diduga palsu.

Awal curiga saat administrasi pilkades Jabungsisir tapi ijasah calon atas nama Hosen itu ditolak panitia pilkades.

Meski pansel beralibi syarat ijazah sebatas diambil syarat minimal tetap menimbulkan curiga.

Ternyata di desa Bulujaran Lor itu tidak pernah ada lembaga ponpes Nurul hasaniyah selaku penerbit paket C milik Hosen saat ini kades Jabungsisir.

“lebih jauh ditelusuri alhasil lembaganya fiktif dan itu diperkuat oleh plt. Kades Bulujaran Lor (Amir) jika Ponpes itu tak pernah ada di desa itu”,terang Suprayitno (3/9).

Menurutnya,ijazah sudah dilegalisir oleh Diknas Probolinggo itupun tak pernah terjadi,sementara tanda tangan diatas nama pejabat Diknas (Drs.H Tutug Edi Utomo,MM) setelah dibandingkan ijazah paket C ditahun 2013 berbeda.

Juga tanda legalisir tidak pernah teregister di Diknas Probolinggo, bahkan nama diatas legalisir ijazah itu (Ir. Dewi Korina, M.MA) NIP bersangkutan keliru, bukan tulis tangan tapi NIP stempel.

Ijazah terlapor (Hosen) tidak teregister saat legalisir, berarti dibikin diluar Diknas Probolinggo.

Terkait penelusuran Suprayitno dkk bikin tercengang. Ijazah bikinan Hosen digunakan mengurus kelakuan baik tingkat desa,kecamatan sampai terbit SKCK polres Probolinggo.

Lalu digunakan pula untuk pengurusan rekomendasi di Kejari dan pengadilan Negeri sebagai syarat administrasi pendaftaran pilkades.

“Cuman oleh panitia pilkades dikembalikan dan mengambil syarat ijasah minimal”, paparnya.

Lanjut Suprayitno, Atas fakta itu dilaporkan sedari tanggal, 20 bulan April 2020 sampai awal November ini masih status pengaduan dan proses penyelidikan

Masyarakat desa Jabungsisir Kecamatan Paiton, terus menduga duga kelambanan polres Probolinggo dalam penanganan pengaduan masyarakat.

Pelapor Suprayitno dkk katakan, saya sudah dimintai keterangan di satuan reskrim polres Probolinggo persoalan dugaan pemalsuan ijazah paket C terbit tahun 2013 dari lembaga Ponpes Nurul Hasaniyah juga palsu.

Kata dia,pengaduan kami sudah 6 bulan lalu, setelah kami telusuri ijazah paket C hasil foto copynya, saat administrasi pilkades Jabungsisir tapi ijasah itu ditolak panitia pilkades.

Meski pansel beralibi syarat ijazah sebatas diambil syarat minimal tetap menimbulkan curiga. Ternyata di desa Bulujaran Lor itu tidak pernah ada lembaga ponpes Nurul hasaniyah selaku penerbit paket C milik Hosen saat ini kades Jabungsisir.

“lebih jauh ditelusuri alhasil lembaganya fiktif dan itu diperkuat oleh plt. Kades Bulujaran Lor (Amir) jika Ponpes itu tak pernah ada di desa itu”,terang Suprayitno (3/9).

Menurutnya,ijazah sudah dilegalisir oleh Diknas Probolinggo itupun tak pernah terjadi.

Sementara tanda tangan diatas nama pejabat Diknas (Drs.H Tutug Edi Utomo,MM) setelah dibandingkan ijazah paket C ditahun 2013 berbeda.

Juga tanda legalisir tidak pernah teregister di Diknas Probolinggo, bahkan nama diatas legalisir ijazah itu (Ir. Dewi Korina, MMA) NIP bersangkutan keliru dan bukan tulis tangan tapi NIP stempel.

Ijazah terlapor (Hosen) tidak teregister saat legalisir, berarti dibikin diluar Diknas Probolinggo.

Terkait penelusuran Suprayitno dkk bikin tercengang. Ijazah bikinan Hosen digunakan mengurus kelakuan baik tingkat desa,kecamatan sampai terbit SKCK polres Probolinggo.

Lalu digunakan pula untuk pengurusan rekomendasi di Kejari dan pengadilan Negeri sebagai syarat administrasi pendaftaran pilkades.

Lanjut Suprayitno, Atas fakta itu dilaporkan sedari tanggal, 20 bulan April 2020 sampai awal November ini masih status pengaduan dan proses penyelidikan.

Sempat sekali digelar perkara itu belum jelas. Bahkan bocoran warga lambannya kasus ini ditindak, membuat warga bingung terkhabar tak kuat saksi.

Lambannya pengaduan masyarakat ditangani sebagaimana perkap Kapolri, promoter, cepat dan murah tampaknya belum teraplikasi.

Dari hasil konfirmasi penyidiknya Bripda M. Bagus Oka N. lewat hp seluler dan WA dijawab enteng. “ini sifatnya masih pengaduan sementara dalam proses penyelidikan,”ujarnya.

Masih terkait kasat reskrim AKP Rizki Santoso, S.IK menjawab pada media, penyelidikan belum selesai masih proses, bila sudah
nanti kita sampaikan dan soal posisi perkara ini penyidik sudah jelaskan ke Pengadu.

Kata dia, terkait pengaduan memang benar diduga adanya penggunaan ijazah palsu paket C oleh terduga (red. Hosen) dalam prosesnya masih di selidiki oleh penyidik.

Bila alat bukti dan unsur terkait yang diduga adanya penggunaan ijazah palsu benar adanya.

“Penyidik akan mengarahkan pengadu untuk membuat LP agar terhadap Pengaduan dapat ditindak lanjuti lebih jauh,”janji kasat reskrim AKP Rizki Santoso, S.IK reskrim Polres Probolinggo.

Sempat sekali digelar perkara 11 Agustus 2020 beberapa bulan setelah pelaporan itu belum jelas. Bahkan bocoran warga lambannya kasus ini ditindak, membuat warga bingung terkhabar tak kuat saksi.

Lambannya pengaduan masyarakat ditangani sebagaimana perkap Kapolri, promoter, cepat dan murah tampaknya belum teraplikasi.

Dari hasil konfirmasi penyidiknya Bripda M. Bagus Oka N. lewat hp seluler dan WA dijawab enteng. “ini sifatnya masih pengaduan, sementara dalam proses penyelidikan,”ujarnya.

Masih terkait kasat reskrim AKP Rizki Santoso, S.IK menjawab pada media, penyelidikan belum selesai masih proses, bila sudah
nanti kita sampaikan dan soal posisi perkara ini penyidik sudah jelaskan ke Pengadu.

Kata dia, terkait pengaduan memang benar diduga adanya penggunaan ijazah palsu paket C oleh terduga (red. Hosen) dalam prosesnya masih di selidiki oleh penyidik.

Bila alat bukti dan unsur terkait yang diduga adanya penggunaan ijazah palsu benar adanya.

“Penyidik akan mengarahkan pengadu untuk membuat LP agar terhadap Pengaduan dapat ditindak lanjuti lebih jauh,”janji kasat reskrim AKP Rizki Santoso, S.IK reskrim Polres Probolinggo.

Dalam kasus ini pelapor dkk selain Suprayitno,Muh.Syafi’i dan Muh.Puji (mas)

Leave a Reply