Ridwan BAE Dan Dokter Rencana Bangun Kekuasaan Oligarki Di Muna, Jubir RAPI ; LM Rajiun Tumada Solusi Meruntuhkannya

Inetnews.id – MUNA, Bersatunya dua Mantan Bupati Muna, Ridwan BAE yang menjabat selama dua periode dan dr LM Baharuddin M.Kes pada Periode 2010 – 2015, dalam memberikan dukungannya kepada Bupati Cuti alias petahana, LM Rusman Emba, dinilai oleh publik bahwa ketiga petinggi politisi di Muna itu bukan lagi memikirkan apa yang menjadi kepentingan Rakyat Muna, namun di duga mereka ingin membangun kepentigan politik Olirgarki atau Kekuasaan Dinasti demi berjalannya kepimpinan di Muna dalam lingkar keluarga mereka.

Hal ini di ungkapkan oleh Jubir LM Rajiun – H. La Pili (RAPI), Wahidin Kusuma Putra, melalui release persnya kepada Inetnews.id (17/10/2020).

Dia menilai Ridwan BAE sejak menjadi Bupati Muna Tahun 2000 silam hingga di akhir masa jabatannya di tahun 2010, sudah merencanakan oligarki ini. Rusman sebagai ponakannya dan dr LM Baharudin sebagai iparnya, yang sesungguhnya sudah dipersiapkan jauh sebelumnya untuk mempertahankan oligarki ini.
” Jadi tak heran, jika Pilkada Muna 2010 dan 2015 hanya menjadi ruang pertarungan dua kader internal kelurganya. Sehingga siapapun yang menang tidak menjadi masalah bagi Ridwan Bae sebab keduanya adalah kader internal keluarga. Dan kami menilai inilah Kekuasaan Oligarki keluarganya tetap bertahan kokoh di Kabupaten Muna, yang hari ini kembali di buktikan pada publik terutama di Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya di Muna,” Ungkap Wahid sapaan sehari Wahidin Kusuma Putra.

Kata Jubir RAPI itu lagi bahwa Oligarki sering diartikan sebagai bentuk pemerintahan yang kekuasaannya bertumpuk pada sekelompok kecil masyarakat, yang mana pengaruhnya sangat besar dalam menciptakan ketimpangan dan menjadi penghambat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masyarakat.

“Kekuasaan Oligarki yang mereka bangun dalam keluarga mereka 20 Tahun tumbuh di Muna dan saya rasa masyarakat sendiri sudah bisa menilai. Tidak ada kemajuan di daerah ini yang siginifikan baik peningkatan ekonomi dalam ruang lingkup masyarakat maupun dalam regenerasi kader politik potensial hanya terjadi di lingkaran kecil keluarga mereka. Hal ini tentu sudah menjadi catatan khusus masyarakat Muna, ” Tutur Wahid yang juga adalah mantan Ketua DPD Pospera Sultra.

Lanjutnya, betapa buruknya kondisi Kabupaten Muna saat ini, Kekuasaan oligarki kelurga Ridwan selama dua dekade ini sama sekali tak mampu dan tak akan pernah nampu membawa perubahan bagi daerah dan perbaikan ekonomi seluruh masyarakat Muna.

” Dengan Hadirnya Rajiun dalam kontestasi Pilkada Muna Tahun 2020 ini, telah memunculkan kekhawatiran besar bagi kelompok Oligarki Ridwan Bae. Mereka tidak menyangka Rajiun akan mendapatkan dukungan Parpol dengan 16 Kursi hingga menghasilkan pertarungan Head to Head. Jika Rajiun menang, maka oligarki keluarga mereka akan terputus,” Ucapnya.

Dia juga mengatakan, jika begitu sulit mempertahankan ini selama 20 Tahun, sehingga suka tidak suka Ridwan Bae dan dr Baharuddin harus bersatu untuk menyelamatkan oligarki kekuasaan itu. Keseriusan Mereka (Ridwan dan Dokter) dalam mempertahankan oligarki ini, sangat terlihat. Berbagai program aspirasi Ridwan BAE yang nota bene asal usul keuangannya bersumber dari Negara di lapangan kita temukan para pendukung Rusman mempolitisasi itu.

“Contohnya, Calon Penerima bantuan Bedah Rumah mulai ditekan dan diancam untuk tidak diberi bantuan jika tidak mendukung Rusman. Penerima Bantuan PKH juga diancam akan dikeluarkan jika tidak memilih Rusman. Padahal, Aspirasi itu memang tugas dan kewajiban Ridwan Bae. Dia dipilih oleh rakyat untuk menjadi Anggota DPR RI. Sudah sewajarnya jika dia memperjuangan kepentingan masyarakat selaku konstituennya. Dia sudah dipilih saat Pileg lalu, mestinya ia wajib membayar jasa rakyat atas janji politikya . Bukan dengan program aspirasi itu untuk menghantui masyarakat,” Katanya.

Dengan terpilihnya Ridwan BAE selaku wakil rakyat di senayan Nusantara itu yang sudah berjalan sudah setahun lebih, Wahid menegaskan agar Anggota DPRRI Komisi V itu dapat memberi keadilan kepada masyarakat atas komitmen politiknya untuk tidak dibuat buat yang seolah olah masyarakat yang berhutang jasa karena di berikan bantuan melalui program aspirasinya yang kemudian masyarakat dipakasakan untuk memilih Rusman di Pilkada nanti.

” Janji Politik Rusman Emba 5 Tahun lalu saja belum terbayarkan. Harusnya Rusman merealisasikan janji itu. Praktek – praktek seperti ini kan pembodohan namanya. Sampai kapan masyarakat Muna mau dibodohi terus seperti ini. Janji politik Rusman sebagai Bupati tidak bisa dibayar oleh “om”nya yang anggota DPR RI. Inilah buruknya praktek oligarki yang mereka bangun dimana kekuasaan hanya berpusat pada sekelompok keluarga mereka,” pungkasnya.

Munculnya LM Rajiun Tumada bersama H La Pili di Pilkada Muna sangat mengubah konstalasi politik saat ini, untuk berlanjutnya regenerasi kepemimpinan Muna kedepannya yang tidak berasas pada Kekuasaan Oligarki. Berbeda dengan 5 dan 10 Tahun lalu, dimana pertarungan Pilkada Muna saat itu hanya diisi oleh calon calon dari internal keluarga Ridwan Bae. Dengan kondisi politik Muna saat ini, ada peluang besar untuk meruntuhkan Kekuasaan Oligarki yang dibangun oleh Ridwan Bae selama kurun waktu 20 Tahun ini. Laode M Rajiun Tumada lah adalah solusi, simbol perjuangan yang diusung oleh mayoritas masyarakat Muna dalam meruntuhkan praktek buruk oligarki di Kabupaten Muna. (Aland).

Leave a Reply