Terjadi perbedaan Responden Survei THI Terkesan Manipulatif, Jubir RAPI: Ada Paradoks Di Direktur THI

Inetnews.id – MUNA, Beredarnya Survei The Haluoleo Institute (THI) dengan hasilnya mengunggulkan Pasangan Calon (Paslon) LM Rusman Emba – Bachrun, itu dinilai tak bisa menjadi rujukan public dalam memprediksi hasil Pilkada Muna 2020 oleh Juru Bicara (Jubir) Paslon LM Rajiun Tumada – H La Pili (RAPI),Wahidin Kusuma Putra.

Menurutnya, dalam melakukan riset terhadap pemilih atau responden sehingga melahirkan hasil survei yang akurat dan sangat kredibel, seharusnya dilakukan 45 hari sebelum pemungutan suara. Olehnya itu kamipun menilai survei yang mereka lakukan tidak akurat.
” Harusnya untuk merelease hasil survei Pilkada Muna, itu dilakukan pada 20 – 26 Oktober atau masih 45 hari lagi sebelum pemungutan suara dilakukan, jelas Ini tidak bisa di jadikan rujukan. Dinamika politik khususnya pada Pilkada Muna, perubahannya jauh lebih agresif dibanding pentas politik yang lain. Apalagi di Muna ini yang bertarung sama – sama figur yang punya pengalaman menjadi Bupati,” Katanya.

Ditambahkan, hasli survei THI yang beredar dipublis secara masiv oleh pihak Paslon Rusman – Bachrun , berbeda dengan survei yang dilakukan oleh Barometer Suara Indonesia (BSI) yang di lakukan di pertengahan November, karena memang sudah berada pada masa puncak pergerakan tim. Jadi survei BSI sangat tepat waktu yang dilakukannya. ” Perbedaan waktu pelaksanaan survei antara THI dan BSI , sudah sekitar tiga minggu berjalan. Sehingga dalam sudut pandang waktu atau konteks kebaruan data, hasil survey BSI lebih akurat dibanding THI dan saya pikir pihak THI juga akan sepakat dengan ini,” tuturnya.

Mantan Ketua DPD Pospera Sultra itu menduga bahwa hasil survei THI itu adalah pesanan Calon Petahana, karena metode yang dilakukan sangat meragukan dan terindikasi manipulatif. Mengapa demikian ? Karena kemungkinan besar pemilihan respondennya meskipun dilakukan secara acak (Multi Stage Random Sampling), namun pada prosesnya sudah pasti ada campur tangan pemerintah desa saat menyiapkan sampel frame sebagai data awal sebelum melakukan pengacakan. Nah, dalam proses ini sangat gampang terjadi memanipulasi proses penentuan responden sesuai dengan pesanan petahana.

” Pada kondisi itu, respondennya juga pasti diintervensi agar dapat memberikan jawaban sesuai dengan keinginan perangkat pemerintah yang menjadi pekerja politik untuk memenangkan petahana. Selain itu, materi pertanyaan yang disiapkan oleh THI kami duga sengaja dirancang untuk menggiring jawaban pemilih demi menguntungkan Petahana. Artinya, dengan hasil survei yang mereka lakukan, ini tidak patut dijadikan rujukan dalam membaca peluang dan memperediksi hasil Pilkada khususnya Pilkada Muna 2020 ini. THI ini lebih condong bekerja sebagai Konsultan Pemenangan Petahana,” Pungkasnya.

Lalebih rinci Jubir Paslon RAPI menjelaskan dari hasil Survei dalam release THI pada Pilkada serentak di Sultra dengan 4 daerah yang di umumkan pada public, sehingga memunculkan pertanyaan ketika terdapat perbedaan jumlah respondennya antara Wakatobi dengan 880 responden sedangkan Muna dan Konsel hanya menggunakan 440 responden. Kendatipun Ditektur THI menjelaskan bahwa jumlah responden lebih tinggi untuk menurunkan margin of error, tetapi Wahidin justru menilai ada paradoks dalam penjelasan Direktur THI dengan adanya perbedaan jumlah responden itu.

“Margin Error Hasil Survei di Pilkada Wakatobi dan Konsel itu sama 3,8%. Justru untuk Pilkda Muna, Margin Errornya lebih rendah 3,4%. Katanya Responden Wakatobi lebih tinggi agar margin erornya lebih rendah, faktanya justru Pilkada Muna margin errornya ditetapkan lebih rendah. Ini semakin menguatkan dugaan kita bahwa release hasil survey THI untuk Pilkada Muna memiliki motif penyimpangan dari kaidah ilmiah dalam sebuah penelitian,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakannya jika saat ini publik diperhadapkan dengan dua hasil survey yang berbeda, antara THI dan BSI. Namun lagi lagi Jubir RAPI itu menyerahkan sepenuhnya ke publik untuk menilai, hasil survey lembaga mana yang lebih realistis apakah THI atau BSI. Dan terlepas dari statunya sebagai Jubir Paslon, dari hasil release kedua Lembaga survei di sultra itu yang sudah mempublis hasil karya mereka, menurutnya hasil Survey BSI lah yang lebih realistis diterima dalam kaida risetnya ketimbang THI.
” Saya berpesan kepada seluruh masyarakat Muna khususnya pendukung Paslon RAPI untuk tidak terpengaruh dengan hasil survey THI. Hasil Survey THI sangat tidak akurat, dalam risetnya ada kaida lain. itu praktek kerja konsultan pemenangan, jangan terpengaruh dengan itu,”tandasnya. (Aland).

Leave a Reply